A. Teori
Pengetahuan Menurut Piaget
Bagi
Piaget semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan/ tindakan
seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu.
Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis, dan merupakan proses.
Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus
menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar, tetapi ada dalam diri
seseorang yang membentuknya. Setiap pengetahuan mengandaikan suatu interaksi
dengan pengalaman. Tanpa interaksi dengan objek, seorang anak tidak dapat
mengkonstruksi gambaran korespondensi satu-satu dalam matematika untuk memahami
pengertian akan bilangan.
Piaget membedakan adanya tiga macam pengetahuan, yaitu:
1.
Pengetahuan fisis
Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat
fisis dari suatu objek/ kejadian seperti bentuk, besar, kekasaran, berat, serta
bagaimana objek-objek-itu berinteraksi satu dengan yang lain. Anak memperoleh
pengetahuan fisis tentang suatu objek dengan mengerjakan/ bertindak terhadap
objek itu melalui indranya. Pengetahuan fisik ini didapat dari abstraksi
langsung akan suatu objek. Misalnya, anak yang bermain pasir dapat menuang
pasir dari tempat yang satu ke tempat yang lain, memegang-megang pasir,
merasakan kekerasannya, meletakkan di mulut, dll. Dari tindakan-tindakan itu ia
membentuk dan membangun pengetahuannya akan pasir. Dalam pembentukan pengetahuan
fisis, bendanya sendiri (pasir) memberitahukan kepada si anak apa yang dapat ia
buat dan yang tidak dapat ia buat. Si anak tidak dapat membentuk skema yang
akurat tentang pasir kecuali ia bertindak aktif terhadap pasir. Pengetahuan
yang akurat akan suatu objek tidak dapat diperoleh dari membaca, melihat
gambar, mendengarkan orang bicara, tetapi hanya dapat diperoleh melalui campur
tangan si anak terhadap benda itu. Benda itu sendirilah akan membiarkan kita
untuk mengerti sifat -sifatnya.
2.
Matematis-logis
Pengetahuan matematis-logis adalah
pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman dengan suatu objek
atau kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan
koordinasi, relasi ataupun penggunaan objek. Pengetahuan matematis-logis dapat
berkembang hanya bila si anak bertindak terhadap benda itu. Tetapi peran dari
tindakan dan benda itu berbeda. Anak itu membentuk/ menciptakan pengetahuan
matematis logis karena pengetahuan itu tidak ada dalam objek sendiri seperti
pengetahuan fisis. Pengetahuan itu harus dibentuk dari perbuatan berpikir si
anak terhadap benda itu. Benda di sini hanya menjadi medium untuk membiarkan
konstruksi itu terjadi. Misalnya, pengetahuan tentang konsep bilangan. Si anak
dapat bermain dengan himpunan 10 keping uang. Ia mengatur uang itu berderet dan
menghitungnya sepuluh. Ia meletakkan keping-keping itu di gelas, ia dapat
menyusunnya vertikal, ia dalam meletakkannya dalam bakul. Waktu ia
menghitungnya, selalu didapatkan 10. Melalui berbagai kegiatan itu, si anak
membentuk konsep akan bilangan 10 yang tetap, meskipun keping-keping itu
diletakkan di tempat yang berbeda-beda bentuknya. Konsep 10 itu sendiri tidak
terdapat dalam keping uang itu, tetapi diciptakan oleh si anak. Pengetahuan ini
tidak dapat diperoleh dari membaca atau mendengarkan orang bicara tetapi
dibentuk dari tindakan seseorang terhadap suatu objek.
Pada taraf tertentu, abstraksi pengalaman matematis tersebut dapat disimbolkan
menjadi suatu logika dan matematika yang murni. Dari sini dapat dimengerti
bahwa logika murni dan matematika murni dapat mengatasi pengalaman karena
tidak terbatas kepada sifat-sifat fisis objek itu sendiri. Sementara itu,
pengetahuan fisis tidak menjadi murni karena didasarkan kepada sifat-sifat
langsung objek atau pengalaman yang diamati. Namun, pada taraf tertentu
pengetahuan fisis ini dapat digabungkan dengan konsep-konsep matematis logis
untuk menemukan suatu persepsi yang lebih tinggi.
3. Pengetahuan sosial
Pengetahuan
sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan
sosial yang secara bersama menyetujui sesuatu. Contohnya adalah aturan, hukum,
moral, nilai, sistem bahasa, dll. Pengetahuan ini muncul dalam kebudayaan
tertentu maka dapat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan
sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek,
tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain. Ketika anak
berinteraksi dengan orang lain, kesempatan untuk membangun pengetahuan sosial
dikembangkan.
Hal yang terpenting dari
pembentukan pengetahuan itu adalah tindakan/ kegiatan anak terhadap suatu benda
dan interaksi dengan orang lain. Pengetahuan yang akurat tidak dapat diturunkan
langsung dari membaca atau dari mendengarkan orang bicara. Pengetahuan si anak
akan dunia bukanlah tiruan dari dunia yang nyata. Setiap individu, sepanjang
perkembangannya, membentuk pengetahuan dan kenyataan melalui asimilasi dan
akomodasi. Pengetahuan fisis, matematis, dan sosial itu diperoleh langsung dari
konstruksi oleh anak itu sendiri.
Dalam The Psychology of
Intelligence, Piaget menyatakan bahwa struktur yang sangat diperlukan dalam
pemikiran orang dewasa, seperti struktur matematis-logis, bukanlah sesuatu
yang menetap pada anak, melainkan sesuatu yang mereka bentuk pelan-pelan.
Setiap struktur dibentuk pelan-pelan dari konstruksi awal dan dikembangkan
dalam konstruksi-konstruksi berikutnya.
Meski kelihatannya banyak anak
mempunyai konsepsi sama tentang sesuatu hal, tidak berarti bahwa konstruksi
pribadi tidak ada. Dunia ini penuh dengan benda-benda fisis dan sosial yang
bermacam-macam. Setiap anak membentuk pengetahuan mereka akan hal-hal itu
melalui asimilasi dan akomodasi. Semua benda yang ada itu memungkinkan anak
membentuk pengetahuan fisis dan matematis-logis mereka. Bila benda-benda dan
lingkungan yang mereka hadapi sama, ada kemungkinan bahwa konstruksi anak-anak
itu ada kesamaannya. Misalnya, anak-anak menghadapi pohon cemara yang sama dalam
tempat dan lingkungan yang sama. Dapat diharapkan bahwa anak-anak itu akan
mempunyai skema yang mirip. Anak-anak yang melihat pohon cemara di tempat lain
dalam lingkungan yang lain mungkin membentuk persepsi yang lain tentang pohon
cemara. Dari sini dapat dimengerti peran lingkungan, situasi, dan prasarana
yang membantu persepsi anak.
Perkembangan struktur kognitif dan
pengetahuan adalah proses yang evolusioner dalam diri setiap individu. Ini
terjadi dalam skemata individu yang setiap kali berubah atau berkembang. Proses
asimilasi menunjukkan bahwa skemata bukanlah tiruan dari kenyataan (realitas).
Akomodasi menjelaskan bahwa konstruksi itu berelasi dengan dunia nyata.
Artikelnya menarik sekali. Sangat menambah wawasan saya. Makasih sdh berbagi pengetahuan....:)
BalasHapusok...sama-sama. kita bisa saling bertukar informasi dan materi.
BalasHapuswah pas banget ini materi yang sedang saya cari,,,terima kasih atas informasinya....
BalasHapusWah ini dia sangat berguna buat saya. thanks ya
BalasHapusbagus sekali teori teentang perkembangannya,sangat membantu saya.
BalasHapusteri makasih.
semoga materi ini bernmanfaat buat teman-teman semua.
BalasHapustetep semangan buat pendidikan Indonesia.