Sabtu, 07 April 2012

Teori Pengetahuan Menurut Piaget


A.    Teori Pengetahuan Menurut Piaget
Bagi Piaget semua pengetahuan adalah suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan/ tindakan seseorang. Pengetahuan ilmiah itu berevolusi, berubah dari waktu ke waktu. Pemikiran ilmiah adalah sementara, tidak statis, dan merupa­kan proses. Pemikiran ilmiah merupakan proses konstruksi dan reorganisasi yang terus menerus. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang ada di luar, tetapi ada dalam diri seseorang yang membentuknya. Setiap pengetahuan mengandaikan suatu interaksi dengan pengalaman. Tanpa interaksi dengan objek, seorang anak tidak dapat mengkonstruksi gambaran korespondensi satu-satu dalam matematika untuk memahami pengertian akan bilangan.
Piaget membedakan adanya tiga macam pengetahuan, yaitu:
1.    Pengetahuan fisis
Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek/ kejadian seperti bentuk, besar, kekasaran, berat, serta bagaimana objek-objek-itu berinteraksi satu dengan yang lain. Anak memperoleh pengetahuan fisis tentang suatu objek dengan mengerjakan/ bertindak terhadap objek itu melalui indranya. Pengetahuan fisik ini didapat dari abstraksi langsung akan suatu objek. Misalnya, anak yang bermain pasir dapat menuang pasir dari tempat yang satu ke tempat yang lain, memegang-megang pasir, merasakan kekerasannya, meletakkan di mulut, dll. Dari tindakan-tindakan itu ia membentuk dan membangun pengetahuannya akan pasir. Dalam pembentukan pengetahuan fisis, bendanya sendiri (pasir) memberitahukan kepada si anak apa yang dapat ia buat dan yang tidak dapat ia buat. Si anak tidak dapat membentuk skema yang akurat tentang pasir kecuali ia bertindak aktif ter­hadap pasir. Pengetahuan yang akurat akan suatu objek tidak dapat diperoleh dari membaca, melihat gambar, mendengarkan orang bicara, tetapi hanya dapat diperoleh melalui campur tangan si anak terhadap benda itu. Benda itu sendirilah akan membiarkan kita untuk mengerti sifat -sifatnya.

2.    Matematis-logis
Pengetahuan matematis-logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman dengan suatu objek atau kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan koordinasi, relasi ataupun penggunaan objek. Pengetahuan mate­matis-logis dapat berkembang hanya bila si anak bertindak terhadap benda itu. Tetapi peran dari tindakan dan benda itu berbeda. Anak itu membentuk/ menciptakan pengetahuan matematis logis karena pengetahuan itu tidak ada dalam objek sendiri seperti pengetahuan fisis. Pengetahuan itu harus dibentuk dari perbuatan berpikir si anak terhadap benda itu. Benda di sini hanya menjadi medium untuk membiarkan konstruksi itu terjadi. Misalnya, penge­tahuan tentang konsep bilangan. Si anak dapat bermain dengan himpunan 10 keping uang. Ia mengatur uang itu berderet dan menghitungnya sepuluh. Ia meletakkan keping-keping itu di gelas, ia dapat menyusunnya vertikal, ia dalam meletakkannya dalam bakul. Waktu ia menghitungnya, selalu didapat­kan 10. Melalui berbagai kegiatan itu, si anak membentuk konsep akan bilangan 10 yang tetap, meskipun keping-keping itu diletakkan di tempat yang berbeda-beda bentuknya. Konsep 10 itu sendiri tidak terdapat dalam keping uang itu, tetapi diciptakan oleh si anak. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh dari membaca atau mendengarkan orang bicara tetapi dibentuk dari tindakan seseorang terhadap suatu objek.
Pada taraf tertentu, abstraksi pengalaman matematis tersebut dapat disimbolkan menjadi suatu logika dan matematika yang murni. Dari sini dapat dimengerti bahwa logika murni dan matematika murni dapat mengatasi peng­alaman karena tidak terbatas kepada sifat-sifat fisis objek itu sendiri. Semen­tara itu, pengetahuan fisis tidak menjadi murni karena didasarkan kepada sifat-sifat langsung objek atau pengalaman yang diamati. Namun, pada taraf tertentu pengetahuan fisis ini dapat digabungkan dengan konsep-konsep matematis logis untuk menemukan suatu persepsi yang lebih tinggi.

3.    Pengetahuan sosial
Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang secara bersama menyetujui sesuatu. Contohnya adalah aturan, hukum, moral, nilai, sistem bahasa, dll. Pengetahuan ini muncul dalam kebudayaan tertentu maka dapat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan sosial tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibentuk dari interaksi seseorang dengan orang lain. Ketika anak berinteraksi dengan orang lain, kesempatan untuk membangun pengetahuan sosial dikembangkan.
Hal yang terpenting dari pembentukan pengetahuan itu adalah tindakan/ kegiatan anak terhadap suatu benda dan interaksi dengan orang lain. Pengetahuan yang akurat tidak dapat diturunkan langsung dari membaca atau dari mendengarkan orang bicara. Pengetahuan si anak akan dunia bukanlah tiruan dari dunia yang nyata. Setiap individu, sepanjang perkembangannya, membentuk pengetahuan dan kenyataan melalui asimilasi dan akomodasi. Pengetahuan fisis, matematis, dan sosial itu diperoleh langsung dari konstruksi oleh anak itu sendiri.
Dalam The Psychology of Intelligence, Piaget menyatakan bahwa struktur yang sangat diperlukan dalam pemikiran orang dewasa, seperti struk­tur matematis-logis, bukanlah sesuatu yang menetap pada anak, melainkan sesuatu yang mereka bentuk pelan-pelan. Setiap struktur dibentuk pelan­-pelan dari konstruksi awal dan dikembangkan dalam konstruksi-konstruksi berikutnya.
Meski kelihatannya banyak anak mempunyai konsepsi sama tentang sesuatu hal, tidak berarti bahwa konstruksi pribadi tidak ada. Dunia ini penuh dengan benda-benda fisis dan sosial yang bermacam-macam. Setiap anak membentuk pengetahuan mereka akan hal-hal itu melalui asimilasi dan ako­modasi. Semua benda yang ada itu memungkinkan anak membentuk penge­tahuan fisis dan matematis-logis mereka. Bila benda-benda dan lingkungan yang mereka hadapi sama, ada kemungkinan bahwa konstruksi anak-anak itu ada kesamaannya. Misalnya, anak-anak menghadapi pohon cemara yang sama dalam tempat dan lingkungan yang sama. Dapat diharapkan bahwa anak-anak itu akan mempunyai skema yang mirip. Anak-anak yang melihat pohon cemara di tempat lain dalam lingkungan yang lain mungkin membentuk persepsi yang lain tentang pohon cemara. Dari sini dapat dimengerti peran lingkungan, situasi, dan prasarana yang membantu persepsi anak.
Perkembangan struktur kognitif dan pengetahuan adalah proses yang evolusioner dalam diri setiap individu. Ini terjadi dalam skemata individu yang setiap kali berubah atau berkembang. Proses asimilasi menunjukkan bahwa skemata bukanlah tiruan dari kenyataan (realitas). Akomodasi menjelaskan bahwa konstruksi itu berelasi dengan dunia nyata.

6 komentar:

  1. Artikelnya menarik sekali. Sangat menambah wawasan saya. Makasih sdh berbagi pengetahuan....:)

    BalasHapus
  2. ok...sama-sama. kita bisa saling bertukar informasi dan materi.

    BalasHapus
  3. wah pas banget ini materi yang sedang saya cari,,,terima kasih atas informasinya....

    BalasHapus
  4. Wah ini dia sangat berguna buat saya. thanks ya

    BalasHapus
  5. bagus sekali teori teentang perkembangannya,sangat membantu saya.
    teri makasih.

    BalasHapus
  6. semoga materi ini bernmanfaat buat teman-teman semua.

    tetep semangan buat pendidikan Indonesia.

    BalasHapus